PKP vs Non-PKP
Kapan harus dikukuhkan PKP, batas omzet, dan implikasi PPN.
PKP (Pengusaha Kena Pajak) adalah status pengusaha yang dikukuhkan oleh DJP sebagai pemungut PPN. Non-PKP adalah pengusaha yang belum/tidak dikukuhkan PKP.
Status ini menentukan kewajiban PPN, hak kreditasi PPN Masukan, dan implikasi administrasi yang sangat berbeda.
Kapan WAJIB jadi PKP
Omzet (peredaran bruto) > Rp 4,8 miliar dalam 1 tahun.
Sejak omzet melewati ambang ini, pengusaha wajib mendaftarkan diri sebagai PKP ke KPP terdaftar dalam 30 hari. Keterlambatan = sanksi.
Pengusaha di bawah ambang juga boleh memilih dikukuhkan PKP secara sukarela ("PKP voluntary").
Perbandingan utama
| Aspek | PKP | Non-PKP |
|---|---|---|
| Wajib pungut PPN? | ✓ Ya, 11% non-mewah / 12% mewah | ✗ Tidak |
| Faktur Pajak? | ✓ Wajib terbitkan | ✗ Tidak boleh terbitkan |
| Kredit PPN Masukan? | ✓ Boleh | ✗ Tidak |
| Lapor SPT Masa PPN? | ✓ Wajib bulanan | ✗ Tidak |
| Customer corporate prefer? | ✓ Ya (bisa kredit PM) | △ Tergantung |
| Beban administrasi | Lebih tinggi | Lebih ringan |
Plus-minus jadi PKP sukarela
Plus
- Customer korporasi besar lebih suka transaksi dengan PKP karena bisa mengkredit PPN Masukan.
- Image profesional/established.
- Boleh ikut tender pemerintah dan B2B besar yang mensyaratkan PKP.
Minus
- Beban administrasi tambahan: terbitkan Faktur Pajak setiap penjualan, lapor SPT Masa PPN bulanan.
- Harga jual efektif lebih mahal 11% bagi customer end-user (B2C) — kompetitif di B2B, kurang di B2C.
- Tanggung jawab atas akurasi Faktur Pajak (kesalahan = sanksi).
Bagaimana esaFiskaly mendukung kedua mode
- 1
- 2
Aktifkan/non-aktifkan flag PKP.
- 3
- 4
Modul invoice tidak menampilkan kolom PPN. Modul Faktur Pajak ter-disable. Modul SPT hanya menampilkan PPh.
- 5
- 6
Modul invoice menambahkan kolom DPP dan PPN. Modul Faktur Pajak aktif dengan pool nomor seri DJP. SPT Masa PPN otomatis tersedia per periode.
- 7
- 8
Bisa beralih kapan saja (misalnya setelah lewat ambang Rp 4,8M). Periode sebelum status berubah tetap mengikuti aturan saat itu — riwayat tidak diubah retroaktif.
Implikasi untuk UMKM yang ikut PPh Final 0,5%
UMKM yang menggunakan tarif PPh Final 0,5% (PP 55/2022) tetap bisa non-PKP selama omzet < Rp 4,8M.
- OP UMKM: pertama-tama 500jt omzet tahunan adalah bebas PPh Final.
- Setelah omzet > 4,8M: wajib menjadi PKP, dan biasanya juga keluar dari skema Final (kembali ke tarif normal Badan / PPh OP progresif).
